Belakangan ini para pemerhati sejarah dan budaya yang mempertanyakan kembali hari jadi tersebut bukan disebabkan alasan etis atau tidaknya peristiwa Letusan Tambora yang membawa puluhan ribu korban nyawa dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Dompu, melainkan lebih pada alasan yang prinsipil bahwa eksistensi DOMPU jauh lebih tua dari 11 April 1815.
Ilustrasi Letusan gunung Berapi
Sumber Foto: https://gunung.id/misteri-gunung-tambora
JALAN PANJANG PENENTUAN HARI JADI DOMPU
Kapan hari lahir Dompu adalah pembahasan yang tidak pernah berakhir, selalu didiskusikan oleh berbagai elemen masyarakat selama puluhan tahun belakangan, bahkan setelah Pemerintah Daerah Dompu sendiri sudah menetapkan secara resmi Hari jadi Kabupaten Dompu tersebut, dinamika tentang Hari jadi tersebut masih tetap ramai dibicarakan.
Pada masa pemerintahan Bupati Dompu, Drs. H. Umar Yusuf, pembahasan mengenai penetapan hari jadi kabupaten Dompu mulai digulirkan. Bahkan pada masa itu sempat disepakati tanggal 12 september 1947 sebagai hari jadi Dompu dan sudah hampir ditetapkan dalam Keputusan daerah. Tanggal tersebut bertepatan dengan pengangkatan sultan Dompu terakhir, Sultan M. Tajul Arifin Sirajuddin sebagai kepala daerah Swaparaja Dompu. Tetapi penetapan tanggal 12 September 1947 ditolak oleh beberapa individu dan kelompok masyarakat sehingga penetapan tanggal tersebut Dompu dibatalkan.
Pada masa Pemerintahan Bupati Dompu Drs. H Hidayat Ali, pembahasan tentang hari jadi Kabupaten Dompu juga sering dilakukan. Tetapi munculnya pertentangan pendapat antara beberapa individu dan kelompok dalam lingkup sosial Masyarakat Dompu membuat pembahasan tersebut selalu mendapatkan jalan buntu.
Selanjutnya pada zaman pemerintahan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH (periode pertama), penelusuran tentang hari jadi Dompu kembali dibahas, kali ini melibatkan beberapa pakar dan pemerhati sejarah Dompu.
Pada tahun 2001, diadakanlah kegiatan Seminar Sehari tentang hari jadi Dompu yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh masyakat, birokrat, budayawan, tokoh pemuda dan perempuan. Jalan buntu kembali didapatkan. Pembahasan tersebut tidak membuahkan hasil karena terjadi perbedaan yang tajam dan tarik-menarik pendapat dan kepentingan dalam kelompok tertentu.
Karena tidak ada kata sepakat Bupati Dompu H Abubakar Ahmad SH mengeluarkan Surat Keputusan Bupati Dompu Nomor: 172 Tahun 2001 untuk membentuk tim perumus hari jadi Dompu. Tim tersebut diketuai oleh Drs. H.M. Yakub MT dan Sekretaris oleh Drs. Zainal Arifin HIR yang bertugas melakukan penelurusan kembali sejarah Dompu. Dan oleh tim tersebut, tanggal 24 september 1545 diusulkan sebagai hari jadi Dompu dengan alasan bahwa pada saat itu adalah pelantikan sultan pertama Dompu yakni La Bata Na'e menjadi Sultan Syamsuddin yang bergelar Ma Wa'a Tunggu.
Lagi-lagi hasil tim perumus mendapat penentangan yang luar biasa dari beberapa kelompok masyarakat maupun beberapa individu. Bahkan ada dua tokoh Dompu yang juga anggota DPRD saat itu dan sudah menjadi ikon polarisasi pendapat tentang hari jadi Dompu terlibat perdebatan sengit terkait penentuan hari jadi Dompu ini.
Pihak yang pertama berpendapat bahwa seharusnya hari jadi Dompu dipilih tanggal 12 september 1947 karena merupakan tonggak sejarah yang bertepatan dengan dilantiknya sultan terakhir M. Tajul Arifin Sirajuddin sebagai Kepala Daerah Swapraja Dompu.
Sebaliknya pihak yang lain berpendapat bahwa tanggal 24 september 1545 pada momen pelantikan Sultan Syamsuddin sebagai sultan pertama Dompu yang seharusnya dijadikan hari jadi Dompu karena tanggal tersebut adalah tonggak peradaban masyarakat Dompu dan Syiar Islam Dompu.
Ompu Beko, panggilan akrab Bupati Dompu saat itu tampaknya sudah tidak ambil pusing dengan perbedaan-perbedaan tersebut. Beliau sudah berkomitmen bahwa pembahasan hari jadi Dompu harus selesai di masa kepemimpinannya, dan itu harus segera.
Oleh karena itu Bupati Dompu mengundang Sejarawan Nasional dan juga seorang Guru Besar Sejarah asal Dompu di IKIP Bandung, Prof. Dr. Helius Syamsuddin, Phd., untuk mempresentasikan materi sejarah Dompu di hadapan eksekutif dan legislatif serta berbagai elemen masyarakat. Dan dengan didampingi dua budayawan besar Dompu, El Hayat Ong dan M Chaidir, Prof. Helius kemudian memaparkan secara ilmiah dan runtut tentang Sejarah Dompu.
Saat itu, perjuangan yang cukup panjang serta melelahkan selama berpuluh-puluh tahun dan telah menciptakan polarisasi yang sangat tajam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Dompu tampaknya sudah menemukan titik terang. Pemaparan tersebut diapresiasi oleh seluruh yang hadir: Menerima usulan Prof. Dr. Helius Syamsuddin, Phd. tentang Hari jadi Dompu, yaitu tanggal 11 April 1815.
Setelah mendapatkan pemaparan ilmiah tentang sejarah Dompu dari pakar sejarah nasional Prof. Helius Syamsuddin, hari jadi Dompu dapat disepakati oleh Eksekutif dan Legislatif. Proses berikutnya adalah dikeluarkannya Keputusan DPRD Kabupaten Dompu tentang Hari jadi Dompu yang kemudian dituangkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Dompu Nomor: 18 tahun 2004.
Akhirnya, pada tanggal 19 Juni 2004 ditetapkanlah hari jadi Dompu jatuh pada hari selasa tanggal 11 april tahun 1815 atau bertepatan dengan 1 Jumadil Awal tahun 1230 Hijriah.
Kenapa dipilih Tanggal 11 April 1815 ?
Penetapan hari jadi Dompu yang jatuh pada tanggal 11 april 1815 dilatar belakangi oleh fenomena alam luar biasa yakni peristiwa meletusnya gunung tertinggi di pulau Sumbawa yaitu gunung Tambora pada tahun 1815 yang membawa dampak besar bagi dunia saat itu.
Sejarah mencatat, ketika gunung Tambora meletus dengan dahsyatnya pada tanggal 11 April 1815, 3 (tiga) kerajaan di sekitar gunung tambora yakni kerajaan Pekat, Sanggar dan Tambora musnah akibat letusan tersebut bahkan membawa dampak buruk bagi pemanasan global yang menghadirkan bencana kemanusiaan besar bagi dunia.
11 April 1815, dianggap sebagai kejadian sejarah dan memisahkan antara Dompu Lama yang sebagian besar telah hancur oleh letusan Gunung Tambora dengan Dompu Baru dimana pasca letusan tersebut kehidupan sosial, budaya dan politik di Dompu seperti terlahir kembali saat Rakyat yang tertimpa bencana berjuang melanjutkan kehidupannya.
1815 adalah Jalan Tengah
Di luar alasan-alasan rasional yang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah tersebut, fakta bahwa banyak pihak dapat menerima tanggal 11 April 1815 sebagai hari jadi Dompu, menurut hemat penulis disebabkan karena tahun 1815 menjadi Jalan Tengah yang adil dan bisa diterima oleh pihak-pihak yang sebelumnya bertentangan.
HARI JADI DOMPU DIGUGAT KEMBALI
Walau sudah disepakati oleh mayoritas elemen masyarakat, penentuan hari terjadinya Letusan Tambora 11 April 1815 sebagai hari Jadi Kabupaten Dompu ternyata masih menimbulkan reaksi yang beragam, bahkan sampai sekarang. Menariknya, perbedaan tersebut justru menjadi diksi yang menarik dan memancing pembahasan lebih dalam lagi tentang banyak hal terkait Sejarah dan Budaya Dompu.
Memang ada banyak pihak yang tidak mempermasalahkan moment tersebut dijadikan hari jadi Dompu, karena keputusan menjadikan 11 April sebagai hari jadi Dompu sudah melalui proses yang Ilmiah dan sarat nilai-nilai akademis. Dan yang terpenting adalah Kabupaten Dompu sudah memiliki hari jadi untuk dirayakan oleh masyarakat. Tetapi di lain pihak juga banyak yang menolak penentuan hari jadi tersebut dengan alasan bahwa tidaklah etis sebuah bencana alam yang membawa banyak korban jiwa dijadikan sebagai hari lahir sebuah daerah.
Sementara itu, para pemerhati sejarah dan budaya juga mempertanyakan kembali hari jadi tersebut tetapi bukan berlandaskan nilai etis atau tidaknya peristiwa Letusan Tambora melainkan lebih pada alasan yang prinsipil bahwa eksistensi DOMPU jauh lebih tua dari 11 April 1815.
Tentu saja untuk membantah argumen Prof. Helius yang dipaparkan secara ilmiah, maka dibutuhkan data yang juga punya nilai ilmiah dan bisa dipertanggung-jawabkan secara akademis. Dengan berbekal data dan argumen yang memadai secara ilmiah, maka para pemerhati sejarah dan budaya Dompu kembali membuka diskusi terkait Hari jadi Dompu dan akhirnya muncul banyak suara dan masukan yang menarik terkait HARI JADI KABUPATEN DOMPU.
Dalam banyak diskusi oleh berbagai elemen masyarakat dengan berbekal data terbaru yang didapatkan saat ini, muncul alternatif lain yang bisa digunakan sebagai hari jadi DOMPU, yaitu beberapa momentum sejarah yang bisa ditarik mundur jauh ke belakang di abad 14 M bahkan sampai abad 9 M.
Dan hal yang menarik bahwa jika kita Menarik Garis Waktu sejarah, ternyata ada beberapa Titik waktu yang bisa dijadikan momentum untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Dompu yang baru.
Sekali lagi...
Reaksi beberapa elemen masyarakat dan para pemerhati Sejarah dan Budaya Dompu terkait hari Jadi Dompu ini bukan karena menolak alasan Hari jadi Dompu ditetapkan bersamaan dengan terjadinya bencana Letusan Gunung Tambora melainkan karena alasan PRINSIP bahwa usia DOMPU sebenarnya jauh lebih tua dari 1815 dan merupakan salah satu peradaban tertua di Nusantara.
HARI JADI DOMPU ADALAH BONUS DARI PELURUSAN SEJARAH DOMPU
Tentunya para pembaca bertanya-tanya apa yang penulis maksudkan bahwa Hari jadi Dompu adalah Bonus dari upaya Pelurusan sejarah Dompu... ? Apakah penulis berpendapat bahwa penentuan kembali hari jadi Dompu tidak penting ?
Silahkan dibaca tulisan saya dengan judul Sejarah dan Hari Jadi Dompu.
