REVITALISASI ISTANA ATAU REPLIKA ISTANA ?

Bagi sebuah wilayah yang di masa kerajaan dulu pernah berjaya dan sampai sekarang peninggalan kerajaannya masih ada, baik berupa Istana maupun Raja dan perangkat Istana lainnya, tentu saja bukan masalah kalau publik ingin melihat bukti eksistensi Kerajaan masa lalu. Tetapi bagaimana dengan wilayah yang pernah eksis sebagai sebuah Kerajaan besar di masa lalu tetapi karena satu dan lain hal bukti keberadaannya hilang tidak berbekas? 

Pada kasus pertama, Kesultanan Jogja, Kesultanan Bima, Kesultanan Sumbawa dll adalah sedikit dari wilayah yang masih bisa dilihat bukti eksistensinya. Sementara pada kasus kedua, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Dompu dll sudah tidak lagi bisa disaksikan bukti keberadaannya di masa lalu, baik itu Istana, Raja maupun perangkat istananya. 

Beberapa wilayah yang dulu kerajaannya pernah berjaya tapi sudah tidak lagi eksis sedang berusaha untuk membangkitkan kembali eksistensinya dengan wacana Revitalisasi ISTANA, dengan membangun kembali sebuah Istana, pengangkatan Sultan serta perangkat adat, dimana Dompu termasuk salah satu diantaranya.


KEBANGKITAN KESADARAN

Tahun 2015 adalah tahun dimana diskusi tentang sejarah dan kebudayaan DOMPU memasuki tahap massif. Diskusi di Media Sosial mengambil porsi yang sangat besar dan sangat menyita perhatian publik.  Bisa kita sebutkan ada 3 orang pemerhati sejarah Dompu yang sangat intens berbagi pengetahuan dan kesadaran terkait Sejarah dan Budaya Dompu, yaitu Nurhaidah Asikin, Imran Kasiri dan Penulis sendiri, Adiansyah Dompu

(Tulisan lengkap tentang proses Kebangkitan Kesadaran Sejarah dan Budaya Dompu ini bisa dibaca pada tulisan lain yang berjudul Bangkitnya Kesadaran Sejarah dan Budaya Dompu. Dalam tulisan ini, penulis akan fokus dulu pada proses terbentuknya Wacana Kebangkitan Kesultanan Dompu).

Singkatnya, kebangkitan Kesadaran sejarah dan Budaya Dompu era Millenial yang kemudian membentuk Gerakan Masyarakat Kembalikan Dompuku yang dipimpin langsung oleh Penulis memberikan pengaruh yang cukup besar. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu saat itu, Ibu Sri Suzana turun langsung menjemput bola menyambut antusiasme rakyat tersebut. 

Terbentuknya Lembaga Kebudayaan bernama Majelis Sapaju Dana Dompu (MASADANA DOMPU) dan Majelis Sakaka Dana Dompu (MAKKADANA DOMPU), yang keduanya telah banyak berkarya dalam perjuangan Kebudayaan dan Sejarah Dompu, adalah dampak langsung dari gerakan, dimana saudara Ferry Ramadhan yang menjadi Ketua MASADANA dan Saudara Muhammad Redo Iradat yang menjadi ketua MAKKADANA adalah para pejuang yang terlibat langsung dalam Gerakan Masyarakat Kembalikan Dompuku.

Penting dicatat disini bahwa salah satu tujuan dari Gerakan Masyarakat Kembalikan Dompuku adalah membangun REPLIKA ASI.


TERBENTUKNYA YAYASAN KESULTANAN DOMPU DAN WACANA REVITALISASI ASI

Sementara itu, keluarga besar Kesultanan Dompu saat itu membentuk sebuah Lembaga bernama YAYASAN KESULTANAN DOMPU (YKD) yang salah satu tujuannya adalah Revitalisasi ASI (Istana) Dompu. 

Keinginan YKD yang begitu besar untuk merevitalisasi ASI Dompu salah satunya ditunjukkan oleh sebuah surat 2 halaman yang berasal dari YKD kepada Kerajaan Jepang untuk meminta bantuan Negara yang pernah menjajah Indonesia tersebut untuk merevitalisasi kembali ISTANA DOMPU, dimana menurut cerita yang bisa dipercaya, waktu itu Istana Dompu dirobohkan oleh bala tentara Dai Nippon dan kayu-kayunya digunakan sebagai benteng untuk membangun markas pasukan Jepang.


REVITALISASI ASI VS REPLIKA ASI

Jika Gerakan Masyarakat Kembalikan Dompuku menelurkan tujuan besar untuk membangun Replika ASI, sementara itu YKD justru ingin merevitalisasi ASI, maka tentu akan timbul sebuah pertanyaan: Apa sih sebenarnya perbedaan REVITALISASI ASI dan membangun REPLIKA ASI? Dan bagi rakyat, lebih penting mana di antara keduanya? 

1. REVITALISASI ASI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Revitalisasi berarti sebuah Proses atau cara atau perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. 

Dari Definisi tersebut, Revitalisasi ISTANA kita artikan sebagai sebuah konsep untuk menghidupkan kembali eksistensi Kerajaan atau Kesultanan yang pernah hidup di masa lalu. Karena ada 3 (tiga) unsur dalam sebuah Kerajaan / Kesultanan, yaitu: Bangunan yang bernama Istana (ASI), Raja (Sultan) dan Perangkat Adat (Majelis Hadat dan Hukum), maka Revitalisasi ASI jelas menuntut hadirnya kembali ketiga unsur tersebut.

2. MEMBANGUN REPLIKA ASI 

Menurut KBBI, Replika berarti Duplikat atau Tiruan, sehingga Membangun Replika ASI adalah sebuah konsep untuk membangun sebuah bangunan yang mirip dengan Istana di masa lalu tetapi bukan Istana. Karena dia bukan Istana maka tidak diharuskan mengangkat seorang Sultan atau membentuk Perangkat Adat. Yang dibutuhkan dalam membangun sebuah Replika ASI hanyalah sebuah bentuk fisik bangunan yang mirip Istana di masa lalu, yang multifungsi dan bisa dimanfaatkan sebagai sebuah Museum, Graha budaya atau kebutuhan lain yang berhubungan dengan pembelajaran Sejarah dan Kebudayaan Dompu. 

Replika ASI bertujuan Edukatif untuk memberikan pemahaman kepada publik bahwa di zaman dulu DOMPU pernah memiliki sebuah ISTANA RAKYAT yang sudah dihancurkan oleh penjajah. Karena dia bersifat Edukatif maka kepentingan rakyat sangatlah besar dalam sebuah konsep bernama Pembangunan Replika ASI.

Jika kita perhatikan perbedaan kedua hal tersebut, maka kita bisa simpulkan bahwa bagi rakyat dan pemerintah, membangun REPLIKA ASI lebih penting daripada Revitalisasi ASI karena pembangunan Replika ASI secara langsung terkait dengan kepentingan rakyat. Maka menjadi kewajiban rakyat dan pemerintah untuk segera mewujudkan hal tersebut dengan uang rakyat. 

Sementara itu karena bersifat Internal Keluarga Besar Kesultanan Dompu, Revitalisasi ASI itu kita serahkan saja pada keluarga besar Kesultanan tanpa perlu keterlibatan secara penuh dari pemerintah dan rakyat. Jika pemerintah terlibat secara penuh dalam urusan ini, maka akan menjadi preseden ke depan bahwa dalam setiap urusan keluarga besar di setiap lapisan masyarakat juga akan dituntut keterlibatan Pemerintah. 

Bukankah di zaman sekarang Kesultanan sudah dihapus sehingga setiap keluarga besar rakyat atau Trah atau 'Londo ra Mai' punya hak dan kewajiban yang setara dan sama tanpa membeda-bedakan Trah yang satu dengan Trah yang lain? Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa Trah Kesultanan tidak boleh diperlakukan berbeda dengan Trah Ncuhi di sebuah wilayah atau bahkan sebuah Trah di setiap keluarga besar rakyat, misalnya.

Jika Trah yang satunya dibantu maka yang lain juga harus dibantu dan bisa dibayangkan betapa repotnya Pemerintah Daerah mewujudkan keadilan kepada sekian banyak Keluarga Besar masyarakat yang menuntut dibantu oleh Pemerintah jika upaya keluarga besar Kesultanan Dompu merevitalisasi ASI mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah.

Hal ini harus menjadi sebuah perhatian bagi pemerintah Daerah di bawah kepemimpinan Bupati KADER JAELANI dan Wakil Bupati H. SYAHRUL PARSAN dalam menentukan kebijakan terkait sebuah entitas bernama ISTANA dan komponen-komponen Istana lainnya, yang tentu bisa bersifat sebagai sebuah entitas Budaya tapi juga bisa bersifat Politis.

Salam,
Adiansyah Dompu