SULTAN DOMPU KE-16: SULTAN MUHAMMAD ZAINAL ABIDIN


SULTAN MUHAMMAD ZAINAL ABIDIN adalah penguasa di Kesultanan Dompoe yang berkuasa dari tahun 1799 M sampai dengan tahun 1805 M. Beliau merupakan putra pertama dari Sultan Abdul Wahab Ma Wa’a Ca’u, selain adiknya Muhammad Tajul Arifin I dan Abdul Rasul I.  

Di era kepemimpinan Sultan Abdurrahman sampai tahta Kesultanan berpindah ke kedua putranya Sultan Yakub Daeng Pabela dan Sultan Abdullah I, kondisi politik Kesultanan Dompoe sangatlah panas karena adanya ’persaingan’ dalam memperebutkan Tahta antara keturunan Sultan Abdul Wahab dan kakaknya Sultan Abdurrahman. 

Hal itu bisa terjadi karena disaat Sultan Abdurrahman menjabat sebagai Sultan Dompu selama 13 tahun dari tahun 1774 M  sampai dengan tahun 1787 M, tahta Kesultanan Dompoe direbut oleh adiknya sendiri, Sultan Abdul Wahab yang bertahta selama 6 tahun dari 1787 M - 1793 M dan sempat mengangkat putra pertamanya Muhammad Zainal Abidin sebagai Putra Mahkota yang kelak akan menggantikannya sebagai Sultan Dompoe. 

Setelah Sultan Abdul Wahab meninggal dunia, Majelis Kesultanan Dompoe malah kembali mengangkat kembali Sultan Abdurrahman sebagai Sultan Dompoe selama 6 tahun berikutnya, dari tahun 1793 M - 1798 M. Hal ini tentu saja mengundang protes keras dari keturunan Sultan Abdul Wahab.

Keadaan makin memanas pada saat Sultan Abdurrahman meninggal dunia, putranya Yakub Daeng Pabela diangkat sebagai Sultan pada tahun 1798 M,  walaupun beliau hanya menjabat tidak sampai 1 tahun karena diturunkan dengan paksa dan diasingkan ke Mpuri dengan tuduhan mengalami gangguan jiwa. 

Apakah selesai sampai di sini? 
Ternyata tidak. Keadaan makin memanas karena setelah Sultan Yakub turun tahta, yang diangkat kembali sebagai Sultan adalah dari keturunan Sultan Abdurrahman, yaitu Sultan Abdullah I, yang menjabat hanya dari tahun 1798 M sampai dengan tahun 1799 M. 

Dalam Buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat yang diterbitkan pada tahun 1977 M disebutkan Pada tahun 1799 M Sultan Muhammad Zainal Abidin melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan dari Sultan Abdullah yang dikatakan sebagai Sultan yang lemah dan terlalu mementingkan diri sendiri juga selalu bersolek sehingga digelari Ma Wa'a Saninu.  

Sultan Muhammad Zainal Abidin dikenal juga dengan nama DAENG HU’U. Dan terkait nama ini ada yang menarik untuk dibahas. Menurut G.J. Held, nama lainnya adalah Daeng Ilauh. Tetapi dari hasil diskusi saya dengan seorang pegiat Sejarah Sdr Faisal Ma Wa'a Taho, penulis di Blog kambalidompumantoi.wordpress.com, ada kemungkinan Held atau editornya Hans Hagerdal salah membaca tulisan HU’U yang ditulis dengan huruf latin miring sehingga kata Hu'u memang tampak seperti kata ILAU. 

Pada tahun 1805, Sultan Muhammad Zainal Abidin mangkat dan tahta Kesultanan Dompoe dilanjutkan oleh adiknya, Muhammad Tajul Arifin.