SULTAN MUHAMMAD SIRADJUDDIN bisa dikatakan sebagai Sultan Dompoe yang paling terkenal disebabkan oleh sikapnya yang keras terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Beliau adalah Putra kedua dari Sultan Abdullah II dan berkuasa antara tahun 1882 M sampai dengan tahun 1934 M atau selama 52 TAHUN. Masa jabatan beliau sebagai Sultan Dompoe adalah yang paling lama dalam sejarah Kesultanan.
Sebagai putra pertama dari Sultan Abdullah II, seharusnya yang menjadi Sultan berikutnya adalah Abdul Rasul. Tetapi tidak ditemukan catatan kenapa putra pertama Sultan Abdullah yang bernama Abdul Rasul atau biasa dipanggil Ruma Lau tersebut tidak menjabat sebagai Sultan Dompoe.
Salah satu cerita yang berkembang kenapa Ruma Lau tidak menjadi Sultan adalah karena beliau memang tidak menginginkan jabatan tersebut. Beliau lebih suka hidup bebas tanpa terikat oleh aturan di dalam Istana, sehingga kemudian diangkatlah adiknya Muhammad Siradjuddin sebagai Sultan Dompoe keduapuluh satu.
Sultan Muhammad Siradjuddin punya karakter yang keras dan tidak mau berkompromi untuk hal yang diyakini benar. Hal tersebut terlihat saat berhadapan dengan pemerintahan Hindia Belanda. Karena sikap melawan yang ditunjukkan Sang Sultan kepada Belanda dan dianggap punya potensi mengadakan pemberontakan, beliau difitnah buruk oleh Belanda dalam tata pengelolaan Pemerintahan Kesultanan dan akhirnya beliau diasingkan ke Kupang bersama kedua anaknya Abdul Wahab dan Abdullah.
Beliau Turun tahta pada tanggal 11 September 1934 dan Wafat pada tanggal 14 Februari 1937. Beliau dikuburkan di Kupang, NTT, sehingga bergelar MANURU KUPA. Pada tahun 2006 dimasa kepemimpinan Bupati Dompu H. Abu Bakar Ahmad, jenasah beliau dipindahkan ke Dompu dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan sebelah barat Masjid Raya Baiturrahman Dompu.
Atas perjuangan Beliau yang melawan Hindia Belanda, saat ini beliau masih diupayakan untuk dijadikan salah satu kandidat Pahlawan Nasional.