DEWA TULANGBAWANG, PUTRA RAJA YANG TERDAMPAR DAN MENJADI RAJA


Dalam versi lain tentang kisah Sang Ncuhi Kula yang telah beranak pinak di wilayah Woja dan sekitarnya serta berkembang menjadi Raja Kecil alias Ncuhi setelah anak keturunannya dan pendatang ke wilayahnya berkembang makin banyak, terdapat kisah lain terkait siapa Raja Dompu yang pertama. 

SANG KULA DAN PUTRA KERAJAAN TULANG BAWANG

Sebagaimana ditulis sebelumnya bahwa sebelum terbentuknya kerajaan di daerah Dompu, sesungguhnya telah berkuasa beberapa kepala suku yang disebut sebagai Ncuhi alias raja-raja kecil. Dari semua Ncuhi yang tersebut di atas, terdapat empat orang Ncuhi yang terkenal, yaitu:

Ncuhi Hu`u (Ncuhi Iro Aro) yang Berkuasa di daerah Hu`u dan sekitarnya.
Ncuhi Soneo yang Berkuasa di daerah Soneo dan sekitarnya.
Ncuhi Nowa yang Berkuasa di Nowa dan sekitarnya.
Ncuhi Tonda yang Berkuasa di Tonda dan sekitarnya.

Dikisahkan bahwa di negeri Woja atau Tonda berkuasalah seorang Ncuhi yang wilayahnya cukup luas bernama Ncuhi Kula dan beliau mempunyai seorang putri cantik jelita bernama La Komba Rawe

Pada saat itu konon terdamparlah putra Raja Tulang Bawang didaerah woja yang sengaja mengembara di daerah Woja bagian timur. Singkat cerita akhirnya putra Raja Tulang Bawang ini kawin dengan putri Ncuhi patakula dan selanjutnya para Ncuhi yang ada akhirnya sepakat untuk menobatkan putra Raja Tulang Bawang tersebut sebagai Raja Dompu yang pertama. Pusat pemerintahannya di sekitar wilayah desa Tonda atau di desa Riwo masuk dalam wilayah kecamatan woja sekarang.

Putra Raja Yang Terdampar

Pada awal abad 7 M- 9 M, Kerajaan Sriwijaya yang saat itu sedang dalam upaya menaklukkan kerajaan-Kerajaan di seluruh pulau Andalas, termasuk di antaranya sebuah Kerajaan bernama Kerajaan Tulang Bawang.

Sebagaimana kebiasaan kerajaan-kerajaan Penakluk yang selalu membumi-hanguskan daerah-daerah taklukannya, maka segala hal terkait Kerajaan tersebut dikejar-lejar dan harus dihilangkan. Demikian juga yang dialami Raja Tulang Bawang dan seluruh keluarganya. Peristiwa penaklukkan Kerajaan Tulang Bawang ini diperkirakan terjadi pada aba 8 M atau 9 M.

Syahdan ceritanya, karena dikejar-kejar oleh banyak sekali bala tentara Kerajaan Sriwijaya, salah satu Putra dari Raja Tulang Bawang melarikan diri tak tentu arah ke arah timur.

Dalam pengembaraannya atau lebih tepatnya dalam pelariannya karena dikejar-kejar bala tentara Sriwijaya, Putra Raja Kerajaan Tulang Bawang tersebut kemudian terdampar dengan menderita banyak luka di sebuah pantai di daerah Woja, tepatnya di wilayah Woja bagian timur yang sekarang dikenal dengan nama Pantai Riang Ria (Riwo). 

Putra raja Tulang Bawang yang terdampar tersebut ditemukan oleh Ncuhi Kula dkk. Luka-lukanya diobati sampai sembuh. Sang Putri cantik, La Komba Rawe, dengan penuh kesabaran merawat pemuda tersebut. Karena sering bertemu muka maka lama kelamaan di antara mereka tumbuh sebuah perasaan suka satu sama lain sampai akhirnya Putra Raja Tulang Bawang tersebut menikah dengan La Komba Rawe.

Putra Mahkota Kerajaan Tulang Bawang Menjadi Raja Dompo

Selanjutnya dalam sidang para Ncuhi, disepakati untuk menobatkan Ncuhi Kula sebagai Raja mereka tetapi ditolak oleh Sang Kula dan akhirnya dia merekomendasikan menantunya alias putra dari raja Tulang Bawang tersebut sebagai Raja. Para Ncuhi menyetujui usulan dari Ncuhi Kula dan jadilah Putra Raja Tulang Bawang tersebut sebagai Raja Pertama di Kerajaan Dompu dengan gelar Dewa Tulang Bawang.

Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa Sang Kula adalah raja pertama Kerajaan Dompu dengan gelar Dewa Sang Kula. Dan beberapa waktu kemudian sebagai penerus diangkatlah menantunya sebagai Raja Dompu kedua dengan gelar Dewa Tulang Bawang

Rentetan persitiwa tersebut diperkirakan terjadi pada saat Kerajaan Sriwijaya mulai memperluas daerah kekuasaannya di seluruh kepulauan Andalas / Sumatra dan bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Tulang Bawang di sekitar Abad 6M sampai 7M. Sehingga bisa diperkirakan bahwa Kerajaan Dompu berdiri pada abad 6M - 7M.

Bukti-bukti sejarah juga menunjukkan bahwa pada abad ke-7 atau sekitar tahun 690 Kerajaan Sriwijaya menguasai hampir sebagian besar wilayah Nusantara, termasuk Pulau Sumbawa dan Dompu telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya pada masa lampau serta pengaruh-pengaruh unsur Agama Buddha pernah tumbuh di wilayah Dompu.
(I Gusti Ayu Armini, 2007 : 231).