Nama asli beliau adalah Muhammad Saffar, merupakan Putra pertama dari Sultan Abdul Rasul II. SULTAN SALAHUDDIN adalah Sultan Kesembilan belas di Kesultanan Dompoe. Beliau berkuasa antara tahun 1857 M - 1870 M atau selama 13 TAHUN dan masih mewarisi sedikit dampak dari Letusan gunung Tambora dan kondisi perekonomian rakyat yang sedang dilanda krisis, walaupun sebagian besar permasalahan tersebut sudah bisa dibereskan oleh Ayahanda beliau.
Sultan Salahuddin mewarisi kebijaksanaan dan kecakapan Ayahandanya didalam memimpin. Kebijaksanaan Ayahanda Sultan Abdul Rasul II betul-betul menurun ke putranya ini dimana beliau memimpin Kesultanan Dompu dengan bijak dan mengedepankan Syariat Islam.
Di zaman beliau Syariat Islam jadikan landasan Hukum Pemerintahan, dengan Semboyan Negeri di saat itu:
Adat Bersendi Sara’.
Sara’ Bersendi Hukum.
Hukum Bersendi Kitabullah.
Pada zaman beliau, seorang Mahaguru berdarah DOMPU bernama Syeikh Abdul Gani yang berdomisili di Makkah dan menjadi Guru dari beberapa Ulama Nusantara yang belajar di Makkah, kembali ke Tanah leluhurnya untuk berdakwah. Di saat Negeri Dompu sedang dilanda Penyakit masyarakat berupa ketergantungan pada Khamr dan Perjudian, kolaborasi Syeikh Abdul Gani dengan Sultan Salahuddin mencapai titik puncak peradaban Islama di Dana Dompu.
Karena Keadilan dan Kesejahteraan rakyat yang beliau wujudkan di Sapaju Dana Dompoe, maka beliau Sultan Muhammad Salahuddin Alwasyiq Billah Al-Majid Al-Shulthan oleh rakyat digelari MA WA’A ADI, artinya Yang Membawa Keadilan.
Beliau wafat pada tanggal 23 Agustus 1870 M. Dompu kehilangan seorang sosok manusia yang tiada bandingannya, baik dalam hal Kepemimpinan maupun ilmu Agama.