Karena Putra-putra dari Sultan Abdul Rasul I masih kecil saat Ayahanda mereka mangkat, maka Kesultanan Dompoe dipimpin oleh Keponakan dari keponakan Sang Sultan yaitu Sultan Abdul Kahar Daeng Mamu selama 17 tahun. Setelah Daeng Mamu mangkat dan putra-putra Sultan Abdul Rasul I sudah menginjak usia dewasa, maka jabatan Sultan Dompoe kemudian kembali dipegang oleh garis keturunan Sultan Abdul Rasul Manuru Laju.
Adalah SULTAN AHMAD ALAUDIN SYAH yang kemudian menjadi Sultan Kesepuluh Kesultanan Dompoe dan berkuasa antara tahun 1749 M - 1765 M atau selama 16 TAHUN. Beliau adalah putra kedua dari Sultan Abdul Rasul I sekaligus adik kandung dari Sultan Usman Daeng Manabang MaNuru GOWA.
Seperti pamannya Sultan Ahmad Manuru Kilo yang punya watak terbuka dan punya pergaulan sangat luas, Sultan Ahmad Syah membuka diri untuk berhubungan dengan pihak manapun, termasuk dengan Belanda. Hangatnya hubungan Kesultanan Dompoe dengan Kerajaan Belanda saat itu sangat tidak disukai oleh rakyat Dompu yang mencurigai adanya misi terselubung dari pihak Belanda dalam kaitannya dengan misi mereka menyebarkan keyakinan di luar Islam.
Maka pada suatu waktu sekembalinya beliau dari Gowa pada tahun 1765 M setelah bertemu dengan perwakilan pemerintah Hindia Belanda di sana, beliau dibunuh oleh rakyatnya sendiri di wilayah Kambu sehingga diberi gelar anumerta MANURU KAMBU.