SULTAN DOMPU KE-9: SULTAN ABDUL KAHAR


SULTAN ABDUL KAHAR adalah Sultan Kesembilan di Kesultanan Dompoe yang berkuasa antara tahun 1732 M - 1749 M atau selama 17 TAHUN. Nama asli beliau adalah DAENG MAMU, sehingga disebut juga Sultan Abdul Kahar Daeng Mamu. Beliau adalah Cucu dari Sultan Siradjuddin Manuru Bata dari salah seorang putri beliau yang tidak diketahui namanya. Ibu dari Sultan Abdul Kahar merupakan adik kandung langsung dari Sultan Abdul Rasul I MaNuru Laju.
Beliau diangkat sebagai Sultan agar tidak terjadi kekosongan Pemerintahan di Kesultanan Dompoe karena pada saat itu Sultan Kamaluddin telah diturunkan paksa oleh rakyatnya dan diasingkan dari wilayah Dompoe, sementara putra-putra Sultan Syamsuddin II saat itu masih kecil. 

Sultan Abdul Kahar pernah berperang dengan Kerajaan BONE dan dengan gemilang memenangkan Pertempuran, dimana hasil besar dari kemenangan tersebut adalah direbutnya salah satu rampasan perang yang paling terkenal saat itu yaitu sebuah Senjata Pusaka berupa keris bernama BALABA. Selain itu para tawanan perang dibawa ke Dompu dan ditempatkan di sebuah wilayah khusus yang penamaan wilayahnya disesuaikan dengan nama daerah asalnya di Sulawesi yaitu BADA (Bada), BUGIS (Bugis), KANDAI  (Kendari) dan MANTRO (Maros). 

Karena beliau banyak membuka daerah pemukiman baru tersebutlah maka oleh rakyat beliau digelari MA WA’A HIDI.