SANG KULA, SANG PATAKULA PENDIRI IMPERIUM DOMPU


Tersebutlah ada empat bersaudara yang terdiri dari Sang Kula dan ketiga adiknya yang bernama Sang Bima, Sang Dewa, dan Sang Jin sedang dalam pengembaraan ke timur untuk mencari sisa-sisa  dari para leluhurnya. Ada juga versi lain yang menyatakan bahwa mereka terdiri dari 3 bersaudara, yaitu Sang Kula, Sang Dewa dan Sang Bima. 
Pengembaraan mereka memakan waktu sangat lama dan mengarungi banyak lautan dengan menggunakan perahu indah dan molek yang terbuat dari bahan bambu-bambu berwarna kuning.

Setelah sekian lama mengembara melewati banyak lautan, suatu saat mereka melihat sebuah pulau yang asing dan mereka kemudian memutuskan untuk singgah di Pulau tersebut. Dan atas  permintaan dari Ina Ka'u (Permaisuri) yang berkuasa di Pulau itu, mereka harus tinggal di sana untuk sementara waktu. Ina Ka'u yang sudah lama hidup sendiri karena suaminya telah lama wafat merasa punya kepentingan untuk mengetahui identitas mereka. Maka sebagai anak tertua, Sang Kula bertindak sebagai pemimpin dan rombongan itupun menuju ke Istana untuk menemui Ina Ka'u. Sang Kula kemudian menceritakan panjang lebar kisah perjalanan mereka.

Karena melihat budi pekerti Sang Kula yang sopan dengan tutur kata yang halus, maka dalam hati Ina Ka'u pun muncul perasaan suka pada pemuda berbudi tersebut dan menyampaikan keinginannya untuk menikah dengannya yang kemudian lamaran Ina Ka'u diterima oleh Sang Kula. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia bersama untuk beberapa saat lamanya, sehingga tibalah waktunya empat bersaudara tersebut harus melanjutkan perjalanan mencari sisa-sisa peninggala leluhurnya. 

Ina Ka'u melepas kepergian mereka dengan ikhlas, sementara Sang Kula berpesan kepada sang istri jika ingin menyusulnya maka dia harus mencari tempat yang terdapat Istana dengan ornamen gambar Naga dengan pintu berwarna-warni menghadap ke arah matahari terbit.

Merekapun melanjutkan perjalanan mereka menuju Timur. Awalnya mereka menuju ke arah Pulau Sangiang, kemudian mereka berlayar ke arah Selatan melewati Selat Sape di sebelah timur Pulau Sumbawa. Perjalanan panjang mereka kemudian mengarah ke Perairan Waworada, Teluk Cempi. Di sanalah mereka akhirnya berhenti sementara di sebuah pantai berombak tenang bernama Riang Ria (Riwo) dan merekapun tinggal beberapa saat di wilayah tersebut. 

Setelah tinggal beberapa saat, mereka ada niat hendak kembali ke daerah asalnya. Mereka memulai lagi perjalanan ke arah Barat untuk kembali ke daerah asal mereka. Yang tidak disangka-sangka, perahu mereka lepas kendali dan membelok ke arah Selatan melewati selat alas. Berbulan-bulan mereka terombang-ambing di Selatan pulau Sumbawa sampai akhirnya terseret kembali ke arah Riwo, tempat yang pernah mereka singgahi dulu. Mereka kemudian membangun pemukiman di wilayah tersebut dan akhirnya mengembangkan keturunan di sana.

Kisah pelayaran mereka menggunakan perahu kuning dari Bambu kemudian dikenal dengan kisah Lopi Monca, Bahasa Dompu dari Perahu Kuning. Kelak kemudian kisah tentang Lopi Monca ini melegenda di Masyarakat Dompu menjadi Cerita Lopi Jao (Perahu Hijau), yang menjadi kisah Horor sebagai dongeng pengantar tidur bagi anak-anak mereka dimana diceritakan bahwa anak yang nakal akan ditangkap oleh Lopi Jao yang sering menampakkan diri setiap maghrib di Sungai-sungai tertentu. 

Sang Kula Menjadi Raja Dompo

Setelah mereka lama bermukim dan beranak-pinak di wilayah Woja, Sang Kula kemudian menjadi Raja kecil di wilayah tersebut. Sementara saat itu di wilayah Dompu sudah terdapat banyak sekali kelompok masyarakat yang mendiami beberapa areal-areal pertanian (Areal Pertanian tersebut dalam Bahasa Dompu disebut Nggaro) dan juga di daerah-daerah pantai. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku yang bergelar Ncuhi. Ncuhi-Ncuhi di wilayah Dompu saat itu tersebut antara lain: Ncuhi Tonda, Ncuhi Soro Bawa, Ncuhi Hu'u (Ncuhi Iro Aro), Ncuhi Daha, Ncuhi Puma, Ncuhi Teri, Ncuhi Rumu (Ncuhi Tahira) dan Ncuhi Temba. Sang Kula sendiri kemudian dikenal dengan nama Ncuhi Kula atau Ncuhi PATAKULA

Menjadi hal yang biasa terjadi pada sebuah kelompok atau komunitas yang mulai besar, terjadi gesekan-gesekan. Dan saat kelompok mereka semakin besar dan jumlah masyarakatnya maupun aktivitas mereka yang makin luas dan makin banyak, maka diperlukan seorang Pemimpin untuk mengatur kegiatan mereka agar tidak terjadi tumpang tindih. Sehingga demikian para Ncuhi melakukan Sidang Dewan Ncuhi. Dalam sidang Dewan Ncuhi, para Ncuhi tersebut bersepakat untuk bersatu dan mendirikan sebuah kerajaan bernaman DOMPO dikarenakan letaknya yang ditengah pulau sebagai penghubung atau ma-DOMPO-na ( DOMPO adalah bahasa Dompu dari memotong) bagian timur dan barat pulau tersebut. Sebagai Raja pertama Kerajaan Dompo disepakati oleh para Ncuhi tersebut adalah Ncuhi Kula dengan gelar Dewa Sang Kula.