Kerajaan Bima mempunyai tradisi kuat mencatat dan menyalin setiap kejadian dan peristiwa yang terjadi di dalam kerajaan maupun diluar kerajaan.
Tradisi tersebut dilakukan terus-menerus selama berabad-abad, sering disalin ulang di setiap pergantian penguasa. Setelah Islam menjadi agama resmi kerajaan, pencatatan tersebut ditulis menggunakan aksara berbahasa Arab-Melayu.Bo Sangaji Kai, naskah kuno milik Kerajaan Bima aslinya ditulis menggunakan aksara lokal. Naskah ini kemudian ditulis ulang pada abad ke-19 dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, menggunakan kertas dari Belanda dan Cina. Dalam naskah tersebut tertulis, menggunakan “Bahasa yang diridhoi Allah”.
Kitab ini mengisahkan kelahiran kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Begitu juga dengan kisah-kisah legenda Sumbawa, susunan pemerintahan kerajaan di Sumbawa dari abad ke abad, hubungan Bima dengan raja-raja Jawa, hingga perjanjian sultan-sultan Bima dengan Belanda.
Bo Sangaji Kai menceritakan sejarah Bima yang dimulai pada abad ke-14. Bahwa sejarah Kerajaan Bima dimulai pada abad 14 diamini oleh Sejarawan sekaligus Keturunan langsung dari Sultan Salahuddin, yaitu Siti Maryam Salahuddin (Alm.).
“Cerita ini diperkirakan terjadi abad 14. Tapi kemudian diperbarui karena di Kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1365. Ini cocok dengan kisah di Bo Sangaji Kai. Jadi, kemungkinan Kerajaan Bima dimulai pada 1340.”
---
Dikisahkan...
Saat Indra Zamrud masih kanak-kanak, dia dikirim oleh ayahnya ke Pulau Sumbawa menggunakan keranjang bambu. Dia mendarat di Danau Satonda, dekat Tambora.
Kabar kedatangannya sudah didengar Ncuhi Dara. Dia pun kemudian menyambut serta mengangkatnya menjadi anak angkat. Ketika itu wilayah-wilayah di Bima diperintah kepala suku yang disebut Ncuhi. Wilayah Bima terbagi dalam Lima wilayah; Selatan, Barat, Utara, Timur, dan Tengah.
Struktur Ncuhi mulai mengalami perubahan ketika Indra Zamrud menjadi Raja Bima pertama saat lima ncuhi di Bima sepakat mengangkat Indra Zamrud yang sudah dewasa sebagai raja setempat, sedangkan para ncuhi itu sendiri menjadi menteri. Nama kerajaannya kemudian disebut Bima, diambil dari nama Ayahnya bernama Sang Bima.
