SUMPAH PALAPA
Pada tahun 1258 Saka (1336 M) disaat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah Mada mengikrarkan sebuah sumpah legendaris yang kelak dikenal dengan nama Sumpah Palapa.
Sumpah Palapa atau Amukti Palapa adalah Sumpah yang diikrarkan oleh Patih Gajah Mada setelah pengangkatan dan dilantiknya ia menjadi Mahapatih Amangkubhumi yang bergelarkan Mahamantrimukya Mpu Gajah Mada. Sumpah Palapa merupakan manifestasi program politik Gajah Mada terhadap Majapahit. Gajah Mada diangkat menjadi seorang patih Kerajaan Majapahit karena jasanya yang besar terhadap Majapahit terutama dalam menyelamatkan Kalagamet sewaktu pemberontakan yang di pelopori Dharmaputera Ra Kuti (Hernawan, 2011).
Sumpah Palapa ini bisa kita baca pada teks Jawa Kuno dalam Kitab Pararaton yang teksnya seperti di awal tulisan ini dan terjemahannya berbunyi: “Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada: Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa" (Muhammad Yamin, 2005: 52).
Pada masa diangkatnya Gajah Mada sebagai Mahapatih Kerajaan oleh penguasa Majapahit saat itu, yaitu Ratu Tribhuana Tunggadewi, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada Sumpah Palapa belum dikuasai Majapahit dan masih berdiri sebagai Negeri yang merdeka.
EKSPEDISI PADOMPO PERTAMA
Untuk mewujudkan sumpahnya, Gajah Mada selaku Mahapatih Majapahit mulai melakukan beberapa ekspedisi penaklukkan ke wilayah-wilayah Nusantara. Salah satu ekspedisi terkenal yang dilakukan oleh Majapahit adalah Ekspedisi Padompo pada tahun 1357 Masehi.
Patut dicatat di sini bahwa menurut cerita tutur Masyarakat Lokal di Dompu, penaklukkan Majapahit pertama kali dilakukan pada tahun 1340an M saat Kerajaan Dompu berada di bawah kepemimpinan Raja Dewa Ma Wa'a Taho (Israil M Saleh, 1985).
(Tentang siapa sebenarnya Raja Dompu Dewa Ma Wa'a Taho ini bisa dibaca secara detail di tulisan lain -Klik disini-)
Pasukan Majapahit saat itu dipimpin langsung oleh Mahapatih Gajah Mada dan berakhir gagal. Ada dugaan bahwa kegagalan Pasukan Majapahit menaklukkan Kerajaan Dompo pada upaya pertama tersebut disebabkan karena pada saat pasukan Gajah Mada mendarat di Teluk Cempi, kondisi fisik para prajuritnya sudah lemah kala berhadapan dengan para prajurit tangguh kerajaan Dompo setelah berminggu-minggu dihajar oleh ganasnya Laut Selatan yang memang terkenal sangat mengerikan bagi pelayaran karena langsung menghadap ke Samudera Hindia.
Pada saat kekalahan Pasukan Majapahit tahun 1340an M, prajurit-prajurit Majapahit memilih kembali ke pulau Jawa lewat Teluk Bima yang tenang. Ada juga dari mereka yang tidak kembali lagi ke Pulau Jawa dan memilih atau ditugaskan menetap dan membangun pemukiman baru di sekitar Teluk dan kemudian membaur dengan para penduduk yang telah lama mendiami wilayah tersebut.
EKSPEDISI PADOMPO KEDUA
Upaya penaklukkan kemudian dilanjutkan dengan ekspedisi kedua pada 1357 M dan berakhir sukses.
Dikarenakan pada tahun yang sama Gajah Mada sedang disibukkan oleh Rencana Prabu Hayam Wuruk memperistrikan Dyah Pitaloka dari Kerajaan Sunda Galuh yang berujung terjadinya Peristiwa PABUBAT, maka Ekspedisi Padompo Jilid 2 ini dipimpin oleh seorang Panglima bernama Nala yang dikenal dengan sebutan Panglima Nala atau Empu Nala. Upaya penaklukkan Dompo kali ini melewati sisi utara Pulau Sumbawa dan mendarat di Teluk Bima yang terkenal sebagai lautan yang tenang.
Pertarungan Satu Lawan Satu
Saat penaklukkan Dompo pada tahun 1357M ini, Pasukan Majapahit mendapat tambahan bantuan karena dibantu oleh Pasukan dari Kerajaan Bali yang sebelumnya telah ditaklukkan oleh Majapahit pada tahun 1343M.
Baik pasukan Majapahit maupun pasukan Dompo mengalami kerugian besar dengan jatuhnya banyak korban akibat pertempuran itu. Majapahit bisa saja mengalami kekalahan sekali lagi jika memaksakan diri untuk terus bertempur langsung dengan para prajurit kerajaan Dompo yang terkenal tangguh. Dengan berbekal tambahan informasi dari para prajurit Majapahit yang dahulu menetap di wilayah timur Dompu sejak serbuan pertama, muncul ide demi menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak maka diadakan Adu Tanding antara jagoan dari masing-masing pasukan.
Maka dipilihlah satu orang dari pasukan Majapahit serta satu orang lagi dari pasukan Dompo. Pasukan Dompo diwakili oleh Dade La Nata dan Pasukan Majapahit diwakili oleh Panglima Pasung Grigis. Keduanya kemudian meninggal dunia dalam membela Negeri mereka masing-masing, gugur sebagai martir atas cita-cita Gajah Mada dalam menjalankan misi mempersatukan Nusantara (Cerita lebih lanjut tentang kisah ini bisa juga dibaca di tulisan lain -Klik Disini-).
( Catatan: Di wilayah Kecamatan HU'U Kabupaten Dompu sekarang, ada sebuah wilayah bernama Desa ADU. Menurut cerita tutur, di wilayah inilah terjadinya Perang tanding atau ADU tanding antara Jagoan dari Dompo melawan jagoan dari Majapahit. Dan menurut cerita tutur tadi ada dua buah kuburan yang berdampingan di wilayah ADU yang disebutkan sebagai kuburan kedua perwakilan pasukan tadi ).
Kitab Negara Kertagama mencatat bahwa Ekspedisi Padompo hanya dilakukan satu kali yaitu pada tahun 1357M, sementara Ekspedisi Padompo pertama pada tahun 1343an tidak tercatat dalam manuskrip tersebut tetapi tercatat dalam BO DANA DOMPU yang sempat dialih-aksara-kan oleh Israil M. Saleh pada awal dekade tahun 1980an dan dimuat dalam Naskah Sekitar Kerajaan Dompu.
Lantas muncul pertanyaan, jika penaklukkan Dompo itu membutuhkan 2 kali ekspedisi, kenapa dalam Kitab Negara Kertagama tidak disebutkan upaya penaklukkan Dompo yang 2x?
Sebab, sebagai sebuah Kitab Pujasastra maka yang ditulis dalam Kitab Negara Kertagama adalah hal-hal baik dan indah sembari menutupi kejadian-kejadian kurang baik dan kegagalan yang dialami. Begitulah ketika para penguasa ingin mewariskan cerita yang baik tentang kekuasaannya, maka dicatatlah kesuksesan-kesuksesan yang mereka peroleh sembari mengabaikan berbagai kegagalan yang dialami.
Alasan Majapahit Menaklukkan Dompo
Saat itu Kerajaan Dompu adalah salah satu Kerajaan tertua di Nusantara bagian Timur dan telah menjadi salah satu kerajaan besar dan pengaruhnya sampai ke Kerajaan Mancanegara. Kerajaan Dompu telah menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan Tiongkok, termasuk hubungan perdagangan, yang dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan- peninggalan arkeologis berupa keramik-keramik Tiongkok berasal dari abad 13 - 14 yang diduga adalah hasil tukar menukar dengan kekayaan alam Dompu berupa rempah-rempah dan Cendana (Agus Aris Munandar, 2010).
Adanya hubungan baik antara kerajaan Dompo dan kekaisaran Tiongkok saat itu membuat kerajaan Majapahit khawatir bahwa hal tersebut akan mengganggu armada dagang Majapahit ke timur sehingga Majapahit memutuskan untuk menguasai Wilayah timur Nusantara dengan menaklukkan Dompo.
Ekspedisi Padompo untuk Menaklukkan DOMPO, bukan yang lain
Penolakan terhadap fakta bahwa Kerajaan Dompo lebih tua daripada Bima banyak bermunculan terutama dari kawan-kawan pemerhati Sejarah Bima. Padahal pendapat-pendapat bahwa Kerajaan Bima memang berdiri pada abad 14 justru muncul dari beberapa Sejarawan Bima sendiri, termasuk dari Sejarawan Senior Siti Maryam Salahuddin, yang merupakan Keturunan langsung dari Sultan Bima Terakhir, Sultan Salahuddin. Artinya pada saat Ekspedisi Padompo dilakukan, Kerajaan Bima memang belum eksis.
Dengan demikian, pertanyaan kenapa MAJAPAHIT menyerang Kerajaan DOMPO dan tidak menyerang kerajaan BIMA menemukan jawaban yang sederhana: Karena saat itu Kerajaan BIMA memang belum terbentuk. Kerajaan Bima baru dibentuk setelah Penaklukkan Kerajaan Dompo. Dengan kata lain: Kerajaan DOMPO lebih dulu ada dan lebih tua daripada Kerajaan BIMA. Sementara saat itu yang disebut Bima adalah sebuah wilayah di ujung timur Pulau Sumbawa yang sudah berpenghuni dan merupakan bagian dari Kerajaan Dompo.
Pendapat yang menyatakan bahwa Kerajaan Bima didirikan setelah Ekspedisi Padompo sejalan dengan pendapat Arkeolog terkemuka dari Universitas Indonesia yaitu Prof. Agus Aris Munandar yang menyatakan bahwa Kerajaan BIMA didirikan oleh orang-orang dari Kerajaan Majapahit pada Abad 14 setelah Majapahit menaklukkan Kerajaan Dompo dalam sebuah ekspedisi yang dikenal dengan nama EKSPEDISI PADOMPO.
Kerajaan Dompo makin mundur Pasca Padompo
Kerajaan DOMPO pasca Ekspedisi Padompo memang kemudian bernasib sama dengan kerajaan-kerajaan taklukkan lainnya yang biasanya dibumi-hanguskan atau mengalami kemunduran drastis pasca penaklukkan.
Negeri penakluk tidak akan membangun kembali peradaban baru di wilayah Negeri yang ditaklukkan. Mereka biasanya akan mendirikan peradaban baru di sekitar wilayah taklukkannya untuk mengawasi kemungkinan bangkitnya perlawanan balik dari negeri taklukkan. Kerajaan atau Negeri Hindu punya kebiasaan tidak akan menempati wilayah yang sudah ditaklukkannya (Munandar, 2018).
Hal ini juga terjadi dalam Ekspedisi Padompo. Wilayah Dompo yang ditaklukkan kemudian mengalami nasib tragis, ditaklukkan dan dibumi-hanguskan. Orang-orang Majapahit kemudian mendirikan kerajaan baru si wilayah timur Dompo yang merupakan pemukiman orang-orang Majapahit yang telah datang duluan pada penyerangan pertama.
Pemukiman tersebut kemudian berkembang menjadi kerajaan Bima. Dan sejarah, sebagaimana biasanya, selalu ditulis ulang oleh para Pemenang dan pendukungnya.
Tetapi hal yang luar biasa adalah Kerajaan DOMPO ternyata tidak bisa dihilangkan begitu saja. Negeri itu tetap bertahan dan kelak Negeri Dompo malah berkembang dan kemudian menjadi bernama Kesultanan DOMPOE dan menjadi pusat penyebaran Islam saat itu dengan banyaknya ulama yang berdakwah di Tanah itu, setidaknya menjadi pusat dakwah Pulau Sumbawa dan Lombok.
