KERAJAAN BIMA DALAM SASTRA DAN SEJARAH


Buku berjudul Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah yang sedang kita ulas ini adalah sebuah Buku Karangan Henry Chambert Loir (HCL) yang melakukan penelitian Teks-teks Kuno di Museum Kerajaan Bima.



Buku ini menghimpun dan menganalisis Tiga Teks Tua bernilai tinggi warisan Kerajaan Bima yang ditulis di Bima dalam bahasa Melayu antara abad ke-17 M dan ke-19 M. Tiga Teks Kuno yang bercerita tentang Kerajaan Bima yang saya maksudkan adalah : 

Teks Pertama, Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa (CAB).
Teks Kedua, Hikayat Sang Bima (HSB).
Teks Ketiga, Syair Kerajaan Bima (SKB).

Untuk memudahkan Pembaca memahami Teks-teks yang ada dan sumber informasi yang digunakan dalam penyusunan Buku tersebut, HCL memberikan Transkripsi berupa huruf tertentu yang menandakan Sumber Informasi, seperti : 
- B untuk naskah yang diambil dari Staatsbibliothek, Berlin.
- J untuk naskah yang berada di Museum Nasional Jakarta
- L untuk naskah yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden
- S merupakan kode untuk naskah yang tersimpan di Bima, milik keturunan Sultan Bima


1. CERITA ASAL BANGSA JIN DAN SEGALA DEWA-DEWA

Zollinger, memberikan kesaksian pernah melihat sebuah naskah cerita itu pada tahun 1847. Zolinger berpendapat, secara sepintas dia sebutkan bahwa cerita-cerita tersebut sebagai campuran yang kacau dari berbagai dongeng dan legenda yang menurut saya seperti 'dicomot' begitu saja dari aneka ragam sumber, yang dibuktikan dengan adanya beberapa contoh kekacauan Cerita Asal ini antara lain tentang penciptaan jin yang pertama dan manusia yang pertama serta sifat manusia menurut agama Islam. 

Dalam CAB ditulis bahwa Jin yang pertama diciptakan bernama Jan Manjan yang diciptakan Allah seribu tahun lamanya sebelum manusia yang pertama, yaitu Nabi Adam. Dari mana sumber Jan Manjan dianggap sebagai Jin Pertama yang diciptakan tidak pernah dijelaskan. Saya menganggap nama JAN MANJAN adalah kreatifitas Penulis Teks CAB dalam mengembangkan imajinasi dan memperluas cakrawala ceritanya. Pun demikian juga ditulis bahwa Jan Manjan diciptakan “dari ujung api yang tiada berasap” tidak pernah diketahui darimana sumbernya. 

Nabi Adam dituliskan juga diciptakan dari keempat anasir: Api, Angin, Air, dan Tanah, yang menghasilkan keanekaragaman “Tabiat, Fill, Laku, dan Untung” manusia, sementara menurut Al-Qur’an, manusia diciptakan “dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam” (Al-Qur’an, 15 : 28, 33).

Pembagian empat unsur dalam diri manusia dalam Cerita Asal tentu saja tidak berasal dari Al-Qur’an, tetapi dari hasil pemikiran generasi-generasi kemudian dengan faham keagamaan yang beraneka-ragam.


2. HIKAYAT SANG BIMA 

Sebuah bentuk sastra dalam sebuah hikayat dimana tokoh-tokoh yang diceritakan di dalamnya adalah tokoh-tokoh pewayangan yang disadur dari kisah Mahabharata.

Karya Sastra berbentuk Hikayat ini berisi mitos asal muasal wangsa Raja-raja Bima dan juga berisi cerita mitos tentang penciptaan dunia dan mahluk-mahluk yang ada. Naskah tersebut ditulis di Bima pada sekitar awal abad ke-18 oleh seorang dalang bernama Wisamarta pada zaman kekuasaan Sultan Hasanuddin (1696 M - 1731 M). Wisamarta datang ke Bima dan memutuskan untuk menulis hikayat ini dengan menggunakan dasar cerita setempat tentang asal usul Kerajaan Bima dengan tujuan “menghiburkan hatinya yang pilu”. 

Ki dalang Wisamarta memanfaatkan kebebasan dalam tradisi pewayangan untuk mengembangkan sebuah cerita  dan menyusun sebuah cerita baru yang sekaligus sangat berkaitan dengan kisah-kisah di Jawa dan kisah-kisah di Bima pada masa pendirian kerajaan. Karya ini merupakan perpaduan antara ceritera Pandawa dan Tradisi Bima tentang asal-muasal kerajaan Bima. 

Hikayat ini sangatlah bernilai tinggi sebagai sebuah karya sastra baik dari sudut pandang tradisi pewayangan maupun sebagai karya sastra bercirikan Melayu.


3. SYAIR KERAJAAN BIMA

Naskah ini adalah sebuah bentuk karya sastra berisi kesaksian seorang penduduk Bima yang tidak dituliskan namanya yang berkaitan dengan berbagai peristiwa pada zamannya berbentuk Prosa dan PuisiPenulisnya adalah seorang kerabat dari Sultan Bima sendiri, yaitu seorang khatib bernama Lukman. SKB merupakan sebuah catatan harian biasa di zaman sekarang, tetapi pada zaman itu, catatan tersebut tentu saja sangat langka dan sangat bernilai sehingga catatan pribadi seperti Teks SKB mempunyai nilai historis sangat tinggi. 

Bab pertama dalam Buku Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah bagian SKB, berupa pengantar yang berisi sumber-sumber informasi dan ringkasan teks. Teks-teks yang ditampilkan dalam bagian ini mempunyai nilai Linguistik, Sejarah dan Sastra yang tinggi. Salah satu Teks yang terpenting adalah sebuah syair yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Pulau Sumbawa pada 20 tahun pertama di abad ke-19 yang memberikan sebuah gambaran yang menyeluruh tentang masyarakat Bima sekitar tahun 1800 awal. 
Bab Kedua berisi Transkripsi Syair Kerajaan Bima disajikan oleh HCL. 
Bab ketiga berisi cerita-cerita penting pada zaman itu, seperti cerita Letusan Gunung Tambora, kisah tentang Sultan Abdul Hamid dan Wazir Abdul Nabi juga Sultan Ismail. 
Bab terakhir berupa lampiran.


KESIMPULAN :

Buku KERAJAAN BIMA DALAM SASTRA DAN SEJARAH karangan Henry Chambert Loir ini sangat lugas menceritakan tentang karya-karya sastra bernilai tinggi dari Kesultanan Bima yang dibuat pada rentang abad 17 M - 19 M. Henry Chambert Loir, dalam buku ini sangat tegas memilah-milah mana bagian sastra dan mana bagian yang layak dijadikan sebagai rujukan sejarah. 

Menarik dibaca tulisannya tentang perbedaan cerita asal muasal yang berkembang di Dompu dan di Bima yang dia tulis di Halaman 60 buku ini, dimana dia menulis sebagai berikut : 

Menurut Legenda yang masih hidup di tengah rakyat, raja-raja berasal dari seekor naga besar yang kawin dengan seorang Dewa dan kemudian bertelur di Nisa Satonda. Telor-telor itulah yang melahirkan raja-raja Bima.

Kalau Legenda tersebut diperbandingkan dengan apa yang disampaikan kepadaku secara tertulis di Dompu, bahwa "Keturunan Dewa-Dewa di Jawa (Antara lain dari Modjo Pahit) menjadi Raja, bahwa beberapa diantaranya meninggalkan pulau Jawa dan berlabuh di Nisa Satonda, bahwa mereka akhirnya duduk di Dompo dan menjadi Raja di negeri itu,  maka disitulah terdapat petunjuk tentang cara bagaimana hal sebenarnya terjadi."