Dalam tulisan tentang Ekspedisi Padompo sebelumnya, sudah ditulis bahwa Ekspedisi Padompo pertama pada tahun 1440M terjadi pada saat Kerajaan Dompo berada di bawah kepemimpinan Raja Dewa Ma Wa'a Taho.
Terkait dengan gelar Raja Dewa Ma Wa'a Taho, maka hal ini memang cukup menimbulkan kontroversi penafsiran, karena Dewa Ma Wa'a Taho yang biasa dikenal adalah Raja Dompu ke-8 yang berkuasa sekitar tahun 1520 M - 1545 M dengan nama asli Bumi Luma Na'e. Beliau adalah Raja Dompo terakhir sebelum berubah menjadi Sistem Kesultanan Saat anaknya La Bata Na'e atau Sultan Syamsuddin diangkat sebagai Sultan Dompu pertama dengan gelar Ma Wa'a Tunggu. Sementara Ekspedisi Padompo terjadi 205 tahun sebelumnya.
Maka penulis berpendapat bahwa Raja Dompo bergelar Dewa Ma Wa'a Taho pada saat Ekspedisi Padompo bukanlah Dewa Ma Wa'a Taho versi Bumi Luma Na'e karena selisih zaman antara tahun 1340 M sampai 1545 M itu mencapai 205 tahun. Karena selisih zaman yang demikian jauh, maka Dewa Ma Wa'a Taho ini mestinya seorang Raja yang lain walaupun punya gelar yang sama. Menarik ditelusuri lewat beberapa manuskrip yang menceritakan tentang Ekspedisi Padompo, salah satunya adalah Babad Bali.
Adalah Pasung Grigis namanya, seorang Mahapatih Kerajaan Bali pada zaman Raja Sri Astha Sura Ratna Bumi Banten di sekitar abad 14, yang punya cerita di sini.
Setelah Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Kerajaan Bali pada abad 14, Pasung Grigis akhirnya bergabung dengan Pasukan Majapahit untuk melanjutkan ekspedisi penaklukkan berikutnya yaitu ke Kerajaan DOMPO di Pulau Sumbawa. Disebutkan juga bahwa ada seorang Raja di pulau tersebut bernama DADE LA NATA (Tertulis juga Dadalanata atau Dedelanata) yang kemudian memimpin perlawanan terhadap Pasukan Majapahit. Disebutkan bahwa terjadi Duel satu lawan satu antara Raja Dade La Nata melawan Pasung Grigis dan berakhir 'imbang', keduanya sama-sama meninggal dunia.
Muncul pertanyaan: Siapakah Dade La Nata sebenarnya ?
Penulis, sekali lagi beranggapan bahwa beliau adalah Raja DOMPO pada saat Ekspedisi PADOMPO itu terjadi. Ada beberapa alasan kenapa penulis berpendapat demikian, yaitu:
- Dalam catatan Kerajaan Sumbawa, tidak pernah ada seorang Raja dengan nama Dade La Nata.
- Tujuan Majapahit ke Pulau Sumbawa adalah untuk Menaklukkan DOMPO, sementara Dade La Nata disebutkan sebagai seorang Raja yang gagah berani melawan pasukan Majapahit saat itu.
- Dalam silsilah Raja Dompu yang dikutip dari Alih aksara BO Dompu dan dimuat dalam Naskah SEKITAR KERAJAAN DOMPU yang ditulis oleh Israil M. Saleh pada tahun 1985, disebutkan bahwa Dade La Nata adalah salah satu Raja Dompo.
Maka, Dade La Nata adalah Raja Dompo saat terjadinya Ekspedisi Padompo yang bergelar Dewa Ma Wa'a Taho. Dialah 'Sang Naga' (Kerajaan Dompo) yang ditaklukkan oleh 'Sang Bima' (Pasukan Majapahit) di sekitar Pulau Satonda itu.